IBX5A815AAF0C4C4

Dia Itu Milik Ku Bukan Milik Mu


Sabtu itu, hujan turun membasahi kota ini. Mau tak mau aku harus tetap menjalankan tugasku untuk bersekolah. Biasanya aku pergi menggunakan motor. Tetapi, kali ini aku diantar tanteku. Sembari dia pergi ke kantor yang melewati sekolahku. Dengan berhati-hati dia mengendari sepeda motor itu. Melawan dinginnya hujan dan melawan terpaan angin. Sesampainya di sekolah, aku berpamitan kepada dia.
Aku menyalaminya. Dengan lari kecil-kecil, aku menuju kelasku XI IPA 2 yang terletak di sebelah kanan kantor guru di lantai dua. Ternyata, banyak guru yang datang terlambat karena hujan itu. Aku pun merasa sedikit senang karena aku bisa bermanja-manja dengan dia, kekasihku walau hanya lewat Handphone. kami menjalin hubungan ini dengan LDR (Long Distance Reletionship= Hubungan jarak jauh). Banyak yang kami bicarakan mulai dari hal yang kecil seperti menyakan kabar. Aku pun menjawab aku baik-baik saja disini. Aku menyakan hal itu juga ke dia.
“Kamu sendiri apa kabar? Gimana sekolahnya disana?”
“Aku baik kok disini. Kamu ga belajar?”
“Ga. Gurunya banyak yang terlambat gara gara hujan. Lah kamu?”
“Sama aku juga lagi ga belajar. Disini juga hujan.”
Percakapan itu tak ingin kusudahi sebenarnya. Tapi apalah daya, Ibu Guru sudah datang ke kelas. Aku mendengarkan penjelasan tentang Pelajaran Kewarganegaraan. Mengikuti jalannya presentasi di kelas, hingga berdebat tentang “Sosialisasi Politik”. Tak lama setelah itu, bel berbunyi. Itu adalah bunyi bel tanda istirahat. Aku masih sibuk membereskan peralatan sekolahku dan menyusunnya di atas meja supaya terlihat rapi. Aku bingung mau jajan atau tetap tinggal di kelas karena hujan masih saja membasahi kota ini. Setelah aku pertimbangkan lagi, aku memilih untuk ke kantin. Aku memandangi sekolah ini. Aku membuat sebuah imajinasi. Andai saja kamu sekolah di sekolah ini, kita bisa menghabiskan hujan ini bersama. Hanya kita berdua. Dibawah hujan ini. Disini. Itu hanyalah sebuah omongan iseng-iseng belaka.

Aku menelusuri setiap anak tangga menuju kantin yang berada di lantai satu. Tiba tiba salah seorang kakak kelas XII IPA 1 membuat langkahku terhenti. Dia meraih tanganku, kemudian dia menatapku dengan tatapan matanya yang begitu tajam. Sebut saja dia Veni.

“Hey! Nama kamu Mila?” Dia bertanya kepadaku dengan tatapan sinis.
“Iya kak. Namaku Mila. Ada yang bisa Mila bantu, kak?” jawabku dengan penuh senyuman.
“ga. Btw kamu udah punya cowok?” Tanya dia lagi.
“Udah kak. Dia sekolah di daerah sana. Kami LDR” Jawabku.
“Namanya siapa? Hubungannya sudah berapa lama? Berapa kali jalan? Sejauh mana hubungan kalian?” pertanyaan yang tidak penting mulai bermunculan.

“Namanya Fandi. Hubungan kami sudah berjalan tiga tahun. Ini buktinya. Cincin ini adalah bukti kesetiaannya kepada ku. Di cincin ini juga terukir nama kami berdua. Memangnya ada masalah apa sih, kak?” tanyaku dengan nada kesal.

“boleh minta nomer handphone kamu? Biar kita bisa Contact-an.”
“Emang ada apa sih, kak? Jangan buat Mila Penasaran. Mila ga suka!! Kakak juga pacaran dengan Fady, kekasihku itu? ” aku bertanya dengan nada sangat kesal.

“Dia ga pacaran dengan Fandi. Tetapi dia berpacaran dengan Dimas.” Jawab salah seorang temannya Veni.

“Dimas?! Dia pacarku. Nama dia itu Dimas Fandi Pratama. Dia kekasihku, kak. Tega sekali kamu bermain cinta dibelakangku. Dia adalah salah satu orang yang sangat aku sayangi selama tiga tahun terakhir.  Jahat kamu kak.” Jelasku dengan air mata yang membasahi pipiku.

Perasaanku sudah tak terkendali mendengar semua itu. Ingin rasanya aku banting semua yang ada dihadapanku. Cuaca pada saat itu sama dengan prasaanku. Ingin rasanya ku hancurkan tangga ini. Aku menaiki tangga menuju kelasku dengan berlinang air mata. Rasanya aku ingin pingsan. Aku sangat lelah. Aku tidak kuat menahan semua ini, sendirian. Kesal, marah, benci, kecewa semuanya masuk dan membunuh hatiku secara perlahan. Akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku meminta sahabatku menemanikuuntuk menemui Fandi di Daerah sebelah. Daerahnya lumayan jauh 170 km dari daerahku. Bahkan, jarak ratusan kilometer aku tempuh untuk minta penjelasan dari kamu.  Aku pergi bersama 5 orang sahabatku. Terkadang cinta memang tidak menggunakan logika, dia hanya butuh perasaan untuk melogiskannya Hujan yang turun sangat lebat membuat baju kami basah kuyup, membuat tangan dan kaki kami keriput kedinginan. Di sepanjang jalan itu kami menghabiskan waktu selama satu jam. Setelah satu jam, kami sampai di tempat tujuan.
Aku sampai disekolah dimana Fandi menuntut ilmu. Disana emosiku mulai meluap-luap. Ingin aku simburkan air kotor ini ke muka dia.
“Kamu selingkuh dengan Veni? Ngaku?! Jujur!!”
“Veni siapa? Kok tiba-tiba jauh kesini ada masalah apa? Kamu juga belum ganti baju. Kamu masih menggunakan baju seragammu.”

“Alah ga osah basa basi deh. Veni bilang dia mau jalan mala mini sama yang namanya Dimas!! Kamu kan Dimas yang dia maksud? Terus maksud kamu beri aku cincin ini apa kalau ternyata dibelakangku kamu selingkuh sayang. LDR itu tidak mudah, sayang. LDR itu perlu kepercayaan yang sangat kuat. Tapi kamu menghancurkan kepercayaan yang aku berikan kepada kamu. Kamu jahat!”

“Aku ga pacaran sama Veni. Veni hanaya teman bisa. Dia sudah aku anggap sebagai kakakku. Aku sayang banget sama kamu. Ga ada yang bisa menggantikan kamu dihatiku, sayang. Percayalah…” Setelah dia menjelaskan semuanya, Fandi berlari menuju kelasnya. Aku mengejar Fandi. Aku bilang ke Fandi,

Kalau kamu memang sayang aku, bawa dia  kerumahku nanti malam. Putuskan dia didepanku kalau kamu masih sayang aku” Pintaku

“ OK… Fine aku akan bawa Veni kerumahmu nanti malam ke rumahmu. Pulanglah… Nanti om dan tantemu mencarimu.”

Aku mencoba mempercayai Fandi. Karena sesungguhnya aku memang tidak percaya perkataan Veni sialan itu.  Aku dan teman-temanku pulang. Air mata ini tak kuat aku bendung. Dan akhirnya air mata ini jatuh dengan sendirinya.  
****
Aku dan teman-temanku menuju rumahku. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit. Kami sampai dirumahku. “Sayang, aku akan menunggumu disini. Di tempat ini” ucapku dalam hati. Di tempat ini aku harap kamu bisa bertanggung jawab atas perkataanmu tadi.
****

Waktu telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Suara motor itu. Ya aku kenal suara motor itu. Itu motor Fandi. Fandi meminta ijin kepada om dan tante untuk membawaku pergi sebentar. Aku mengantarkan dia ke rumah Veni. Veni begitu terkejut. Fandi upsss Dimas uuppssss siapalah itu. Dia bilang ke Veni

“Mulai sekarang kau bukan  kakak ku lagi. Hubungan kita hanya sebatas teman. Tidak lebih. Mengerti?!”

“OK. Makasih buat semuanya. Kamu memang yang terbaik buat Fandi, Mil. Jaga dia. Dia adalah seseorang yang sangat istimewa.”  Kata Veni.

“ Makasih kak” kata ku sambil melengkungkan senyumku


Akhirnya Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik buat kami. Dia begitu adil. Dia Maha sempurna.  Aku dan Fandi melanjutkan hubungan kami yang hampir putus di tengah jalan. Veni juga berjanji bahwa dia tidak ingin mengganggu hubungan kami...

Ternyata dia miliku, ven. Bukan milikmu
Hubungan jarak jauh memang tidak mudah. Butuh pengertian yang sangat kuat. Banyak hal kecil yang  membuat hubungan menjadi rumit. Kalau kita bisa melawan semua itu, itu baru namanya Cinta yang sesungguhnya. Jaga cinta sejati kamu ya. 

_Novia Khairun Nisa _


 
Dia Itu Milik Ku Bukan Milik Mu Dia Itu Milik Ku Bukan Milik Mu Reviewed by sahabat tekno on 1:51 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.